top of page

Di Rundung Wabah COVID-19, Tetap Berpikiran Rasional!

  • gilangrizkialfariz
  • Jan 13, 2020
  • 8 min read

Updated: Apr 4, 2020

Beberapa hari terkahir, sangat ramai baik di media social maupun media mainstream konten berita yang memuat isu merebaknya wabah virus COVID-19. Berdsarkantimingmerebaknya isu tersebut dimulai dari negara Tiongkok yaitu tepatnya di daerah Wuhan, pada bulan Januari 2020 tepat tanggalnya saya lupa. Dari isu yang beredar virus tersebut awalnya ditemukan oleh seorang dokter mata yang mendapati pasiennya dengan kondisi terinfeksi virus. Banyak spekulasi menyebutkan bahwa virus tersebut berasal dari seekor kelelawar yang dikonsumsi pasien tersebut karena dimasak kurang matang dan sampai sekarang belum jelas asal muasal virus terebut ditemukan.

Secara klinis pasien yang diduga menderita atau terinfeksi virus tersebut bisa dibagi menjadi moderate-mild symptomp dan severe symptomp atau dalam bahasa awam adalah gejala ringan-sedang hingga berat. Bagi kalangan medis gejala-gejala dari sangat bias karena mirip dengan gejala pneumonia komunitas, yaitu demam, batuk dan sesak nafas. Berdasarkan data dari WHO yang diposting pada laman websitenya (9/3/2020) menyebutkan bahwa virus ini memiliki masa inkubasi 2-14 hari setelah menginfeksi manusia sebelum akhirnya menimbulkan gejala diatas (Anonim., 2019). Belum ada penelitian menyebutkan transmisi penularan melalui hewan, hal ini diperkuat dengan pernyataan CDC dimana penularan paling kuat adalah manusia ke manusia melalui droplet saat orang yang terinfeksi batuk atau bernafas (Anonim., 2020).

1. Pertanyaannya pertama bagaimana kondisi terkini persebaran virus COVID-19?

Dari data yang dilansir dari website WHO per tanggal 22 Maret 2020 total pasien yang terkonfirmasi positif adalah 308.594 orang dengan kesembuhan 95.829 dan meninggal sebanyak 13.069 orang. Memang secara kuantitas banyak karena itu kasus ini ditetapkan pandemi oleh WHO, karena persebarannya bukan lingkup tempat awal infeksi melainkan sudah seluruh dunia (Anonim., 2020) Di Indonesia sendiri berdasarkan data laman covid19.go.id total pasien positif COVID-19 adalah 514 orang dengan angka kesembuhan 29 orang dan meninggal 48 orang (Anonim., 2020). Pada tulisan ini saya akan membahas studi kasus yang dilakukan oleh L.T Phan et.all (2020) pasien suspek COVID-19 di neegara tetangga kita yaitu Vietnam, kebetulan papernya dipublish di database New England Journal Medicine (NEJM) pada tanggal 28 januari 2020 berikut nomor DOI 10.1056/NEJMc2001272.


Laporan Studi Kasus 1

Pasien lansia usia 65 tahun, dengan riwayat penyakit penyerta hipertensi, diabetes tipe 2, coronary heart desease dengan pengalaman pemasangan ring jantung, serta ca paru masuk IRD salah satu RS daerah di Vietnam dengan kondisi demam dan pusing. Pasien masuk RS tanggal 17 Januari yang diduga tertular oleh istrinya yang habis bepergian dari Wuhan, Tiongkok 4 hari setelah wabah COVID-19. Setelah dilakukan swab tenggorokan dan dianlisis dengan pemeriksaan DNA virus (real time-PCR) didapatkan pasien positif COVID-19. Instruksi isolasi pun dilakukan oleh pihak RS dengan terapi anti retrovirus, antibiotik spektrum luas, dan terapi suportif lainnya seperti cairan, oksigen dan diet dari ahli gizi. Pada tanggal 26 Januari 2020 kondisi klinis membaik dan istri pasien juga tidak memperlihatkan gejala atau asimptomatis setelah bepergian dari Wuhan.


Laporan Studi Kasus 2

Sepasang suami istri, usia 27 tahun dan seorang anaknya tinggal di kota Long An, sebuah provinsi yang letaknya 40 km dibagian selatan kota Ho Chi Minh sejak oktober 2019. Dari pengakuan kedua pasangan tersebut mereka tidak sedang habis bepergian ke luar kota dimana tempat persebaran virus COVID-19 yaitu Wuhan dan tidak juga kontak dengan suspek pasien COVID-19 yang datang ke tempat mereka tinggal. Pada tanggal 17 Januari 2020, dia bertemu dengan ayahnya yang tinggal di Nha Trang di central kota Vietnam dan berbagi tempat tidur selama 3 hari disebuah hotel. 20 januari 2020, si anak pasangan tersebut mengalami batuk kering dan demam dengan peningkatan suhu tubuh. Mereka melaporkan juga anaknya mengalami muntah dan bab cair sehari sebelum dilakukan rawat inap. Ini menunjukkan bahwa masa inkubasi terjadi 3 hari atau kurang pada kasus ini. Gejala klinis yang ditandai dengan demam 39oC pada saat hari pertama rawat inap membuat si anak segera diisolasi. Hasil foto thorax dan pemeriksaan lab menunjukkan hasil normal hanya peningkatan sedikit C-Reactive Protein 13.9 mg/L. Dilakukan juga pemeriksaan DNA (real time PCR) virus Influenza A dan B dan demam berdarah menunjukkan hasil negatif baik anak dan orang tuanya. Hasil swab tenggorakan menunjukkan si anak positif COVID-19. Kecurigaan sumber infeksi adalah si ayah dari anak tersebut namun pemeriksaan strain DNA untuk memastikan transmisi ayah-anak belum dilakukan karena si anak membaik setelah 23 januari 2020.


Berdasarkan kedua studi kasus diatas, kedua pasien yang dinyatakan positif COVID-19 setelah dilakukan perawatan oleh pihak RS berhasil sembuh, gejala klinis yang nampak pun merupakan gejala ringan seperti flu biasa. Untuk usia produktif atau dewasa muda atau dewasa sebagian besar tidak menunjukkan gejala klinis setelah masa inkubasi virus, ini sudah dijelaskan pada kasus 2 diatas.

2. Pertanyaan kedua Bagaimana menilai kejadian outbreak COVID-19 jika dilihat dari nilai statistik epidemilogi?

Dilansir dari jurnal yang berjudul Characteristics of and Important Lesson From The Coronavirus Desease 2019 (COVID-19) Outbreak in China yang dipublikasikan oleh Z Wu dan J.M McGoogan (2020) di JAMA Network terbitan 24 Februari 2020 dengan membandingkan wabah lainnya yaitu SARS (2002-2003), MERS (2012-sekarang), dan COVID-19 (2019-sekarang). Dari ketiga wabah virus tersebut terdapat beberapa kesamaan dantaranya transmisi dicurigai berasal dari zoonotic (hewan), gejala klinis seperti batuk,demam, sesak nafas, terapi yang diberikan adalah terapi supportive, serta diagnosis yang juga hampir sama yaitu pemeriksaan asam nukleat (DNA), gejala klinis, gambaran radiologis pneumonia yang disebabkan oleh ketiga virus tersebut. Mari kita hitung Bersama hasil Case Fatality Rate (CFR) berdasarkan perhitungan epidemiologi dari data terakhir yang dikeluarkan WHO:

a. SARS menginfeksi 8.062 orang mengakibatkan 774 orang meninggal nilai Case Fatality Rate (CFR) adalah 9,6%

b. MERS menginfeksi 2.494 orang mengakibatkan 858 orang meninggal nilai Case Fatality Rate (CFR) 34,4%

c. COVID-19 menginfeksi 308.594 orang mengakibatkan 13.069 orang meninggal nilai Case Fatality Rate (CFR) adalah 4,23%

Well see, setelah kita hitung nilai CFR dari masing-masing infeksi virus ternyata infeksi COVID-19 masih relative lebih kecil dibandingakan nilai kematian dari wabah sebelumnya yaitu SARS ataupun MERS dan kematian terbanyak memang berasal dari sumber paparan infeksi pertama kali yaitu di kota Wuhan, Tiongkok. Baik coba kita bandingkan antara Italia dan Indonesia, menurut G Onder et.all (2020) disebutkan data CFR pasien COVID-19 di Italia adalah 7,2% kematian tertinggi pada usia ≥ 80 tahun, sekarang di Indonesia 9,3% dan distribusi pasien yang meninggal adalah pasien yang mengidap komplikasi atau memiliki riwayat penyakit penyerta seperti diabetes melitus dan stroke. Memang angka ini terpaut lebih tinggi dari negara Italia, karena belum semua pasien yang positif COVID-19 terdatakita lihat data dari Korea Selatan persentasi kematiannya sangatlah kecil, dibandingkan Italia yaitu 1% (<5%).

kok bisa korea persentase kematiannya (case fatality rate) kecil? Dilansir dari laman berita Asiatech daily 26 Februari 2020 disebutkan pengalaman korea menghadapi wabah SARS waktu lalu dengan mengembangkan rapid test untuk menilai pasien terinfeksi COVID-19 dengan cepat sehingga langkah prentive bisa dilakukan (Anonim, 2020).

salut dengan langkah pemerintah Indonesia walaupun agak sedikit telat untuk melakukan rapid test. Disisi lain kebijakan seperti social distancing dan budaya hidup bersih dan sehat bersamaan digalakkan.


3. Pertanyaan ketiga bagaimana perkembangan vaksin dan terapinya?


Kita harus gembira karena pada tanggal 16 Maret 2020, media dari kementrian kesehatan di Inggris mengumumkan bahwa vaksin COVID-19 sudah ditemukan dan siap uji klinis fase 1 vaksin tersebut dinamakan mRNA-1237. Jadi yang belum mengerti uji fase 1 adalah uji yang masuk ketahap uji kepada manusia sehat, karena tahapan uji adalah bertingkat dari mulai uji menggunakan mikrobiologi, bagian tubuh manusia, hewan sampai dengan manusia. Dari beritanya sih disebutkan bahwa subjek uji sebanyak 45 orang dengan rentang usia 18 – 55 tahun selama 6 minggu (Anonim 2020).

Selain itu langkah kebijakan pemerintah untuk mengimport choloroquin dan avigan (Fivipavir) saya nilai juga sudah tepat. Saya akan sedikit mengulas sedikit terapi dari COVID-19 Sebelum mengifeksi tubuh manusia, virus harus masuk kedalam sel inang atau tubuh manusia tersebut dengan cara menempel menggunakan spike (Gambar 1) pada sel dan kemudian masuk dengan cara difusi membrane atau endositosis. Tempat menempel virus itu dinamakan reseptor Angiotensin Converting Enzyme (ACE) 2, memang dari beberapa penelitian lokasi reseptor ini terdapat banyak di organ ginjal dan juga ditemukan di paru-paru yang berhubungan dengan system pengaturan tekanan darah melalui keseimbangan cairan didalam tubuh, namun pada sub reseptor ACE 2 yang mana blm banyak disebutkan dalam penelitian (M Cascellas et.all., 2020).

Gambar 2. Mekanisme Aksi Chlorquine (Kina) Menghambat Pembentukan Komponen Glikoprotein Reseptor (J Farkash., 2020)


Fungsi dari obat Chlorquin (kina) adalah menghambat pembentukan salah satu komponen dari reseptor tersebut yang bernama Picalm. Dengan dihambatnya protein ini virus tidak bisa masuk ke dalam sel (endositosis) dan bereplikasi (J Pelt et.all., 2018) Lantas bagaimana dengan Avigan (Favipiravir)? Jika Chloroquin membatasi “ruang gerak” virus pada “antena” sel, si Avigan ini mengganggu pada “mesin komputernya” atau enzim RNA Polymerase agar protein didalam virus tidak bisa dibaca dan sampai pada tahap perakitan virus baru, dengan begitu virus akan mati dengan sendirinya dimakan oleh tantara didalam tubuh (sel imun) (L Dong et.all., 2020). Terbukti dari beberapa penelitian kedua obat ini mampu mengatasi gejala klinis pasien dengan derajat sedang


4. Pertanyaan Keempat Apa yang harus kita lakukan dan Lantas Apakah Panik berlebihan Bisa Menyelesaikan Masalah?


Jika kita telusur 1 bulan ke belakang, hampir semua stasiun tv memberitakan kelangkaan masker dan handsanitizer sebelum adanya kelangkaan alat pelindung diri (APD). Selain itu, masivnya pemberitaan terkait korban seakan tidak ada hentinya memberi asupan kepada masyarakat. Pemerintah dengan program kebijakan seperti physical distancing, work from home, serta edukasi masyarakat mengenai prilaku budaya hidup sehat (PHBS) di beberapa sektor sepertinya belum mampu meredam kepanikan masyarakat. Alhasil kepanikan di masyarakat makin menjadi dengan berbondong-bondong datang memeriksakan diri ke rumah sakit yang membuat pelayanan kesehatan semakin hectic. Pada kondisi kecemasan yang berlebihan diduga mampu menurunkan jumlah citokin yang merupakan mediator inflamasi di dalam tubuh.


Kelenjar pituitary seperti memiliki kerja gas dan rem dengan amygdala di otak ketika ada suatu kecemasan, ketakutan dan kekhawatiran yang berlebih dapat membuat amigdala mengalami “rem” dan menstimulasi kelenjar pituitary di otak untuk memproduksi hormone Adrenokortikotropik (ACTH), hormone ini yang “menslowdown” aktivitas hormone kortisol yang berperan sebagai “penggerak” sel kekebalan dalam tubuh yang justru malah membuat semakin rentan untuk mengalami infeksi (R Hou dan D.S Baldwin, 2012).

Banyak yang bisa diambil sebagai pelajaran dalam situasi wabah COVID-19 antara lain banyaknya bermunculan “apoteker-apotekeran” yang mengajarkan masyarakat untuk membuat handsanitizer dengan komposisi yang tidak pas, alih-alih membuat kuman mati tapi malah membuat kerugian karena menyebabkan langkanya etanol sebagai bahan antiseptic para tenaga kesehatan di rumah sakit yang sejatinya lebih membutuhkan, kedua banyak bermunculan “epidemiologis-epidemiologisan” yang mendapatkan data jumlah pasien baik yang terinfeksi atau meninggal dengan interpretasi yang salah dan tanpa ragu menyebar di social media sehingga bukannya membuat masyarakat menjadi lebih tenang malah sebaliknya, semakin membuat resah. STOP itu semua!, berfikirlah rasional dengan cara membagikan berita semangat dan konten positif tanpa menjatuhkan berbagai pihak seperti yang dilakukan warga Wuhan sehingga mereka bisa membantu pemerintah menyelesaikan pandemic ini. Sekian…


Apoteker Gilang Rizki Al Farizi, M.Farm

Alumni Magister Farmasi Klinik Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta dan Pendidik di Stikes Telogorejo Semarang


Daftar Pustaka

Anonim., 2019. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) [Online]. Available: https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/symptoms-testing/symptoms.html [Diakses 17 3 2019]


Anonim., 2020. Q&A on Coronavirus (COVID-19) [Online]. Available: https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses [Diakses 9 3 2020]


Anonim., 2020. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Situation Report-57 [Online]. Available: https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200317-sitrep-57-covid-19.pdf?sfvrsn=a26922f2_4 [Diakses 17 3 2020]


Anonim., 2020. Situasi Virus Corona (COVID-19) 22 Maret 2020 [Online]. Available: https://www.covid19.go.id [Diakses 24 3 2020]

Anonim., 2020. Korean Firm Develops Simple Tester To Detect COVID 19 in 10 Minutes [Online]. Available: https://www.asiatechdaily.com/korea-firm-covid-19-testing-kit/ [Diakses 24 3 2020]


Anonim., 2020. NIH Clinical Trial of Investigational Vaccine for COVID-19 Begins [Online]. Available: https://www.nih.gov/news-events/news-releases/nih-clinical-trial-investigational-vaccine-covid-19-begins [Diakses 17 Maret 2020]


Felger., E.Haroon., dan A.H Miller., 2016. Inflamation and Immune Function in PTSD: Mecanism, Consequences, and Translational Implication [Online]. Available: https://oxfordmedicine.com/view/10.1093/med/9780190215422.001.0001/med-9780190215422-chapter-13 [Diakses 24 3 2020]


G Onder dan G Rezza., 2020. Case-Fatality Rate and Characteristics of Patients Dying in Relation to COVID-19 in Italy. Jama Network 2020:E1-E4


L.T Phan., H.Q Le., T.M Cao., 2020. Importation and Human-to-Human Transmition of Novel Corona in Vietnam. The New England Journal of Medicine 382:872-874

J. Farkas., 2020. COVID-19 [Online]. Available: https://emcrit.org/ibcc/covid19/ [Diakses 24 Maret 2020]


J Pelt., S Busatto., M Ferarri., E.A Thompson., K Mody., J Wolfarm., 2018. Chloroquin and Nanoparticle Drug Delivery:A Promising Combination. Pharmacology and Therapeutics 191: 43-49


L Dong., S Hu., J Gao., 2020. Discovering Drugs to Treat Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Drug Discoveries and Therapuetics 14(1):58-60


M. Cascella., M. Rajnik., A. Cuomo., S. Dulebohn., R. Di Napoli., 2020. Features, Evaluation and Treatment Coronavirus (COVID-19) [Online]. Available: https://www.statpearls.com/kb/viewarticle/52171 [Diakses 24 3 2020]


R Hou dan D.S Baldwin., 2012. A Neuroimmunological Perspective On Anxiety Disorders. Hum.Psychopharmacol Clin Exp 27:6-14


Z Wu dan J.M McGoogan., 2020. Characteristics of and Important Lessons From the Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Outbreak in China. Jama Network 2020:E1-E4

 
 
 

Comments


The Science & 

Mathematics University

© 2020 by Gilang Rizki Al Farizi

  • Grey Instagram Icon
  • Facebook Clean Grey
  • Twitter Clean Grey
  • LinkedIn Clean Grey
bottom of page